Tuesday, July 5, 2011

Filsafat bahasa

I. Pendahuluan

Bahasa menjadi unsur penting yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya—tumbuhan dan hewan. Keunikan manusia bukanlah terletak pada kemampuan berpikirnya melainkan terletak pada kemampuannya berbahasa. Walaupun hal ini banyak yang menentang, dengan pendapat tanpa bahasa manusia masih dapat tetap berpikir. Bisa berpikir tapi tidak runut dan tidak teratur, sekedar berpikir saja. Selain kemampuan berbahasa, budaya juga merupakan unsur penting pembeda manusia dengan mahluk lainnya. Apa hubungan antara budaya dan bahasa? Sebelum menjawab itu jawablah dulu pertanyaan berikut “Bagaimanakah cara menghilangkan sebuah budaya?” jawabannya adalah dengan melarang penggunaan bahasanya. Sebagai ilustrasi, seandainya ingin menghapus budaya wayang dalam budaya Jawa, pelarangan pentas wayang tidak akan menghilangkan wayang, akan tetap tersebar dari mulut kemulut, turun-temurun, bahkan dengan pelarangan secara frontal akan menimbulkan resistansi yang justru akan mempopulerkan wayang. Bagaimana seandainya yang dilarang adalah penggunaan bahasanya, dalam hal ini bahasa Jawa, dalam beberapa waktu kedepan niscaya wayang akan hilang, beserta kebudayaan-kebudayaan jawa lainnya. Hal tersebut menunjukkan pentingnya bahasa.


Bahasa dapat dicirikan sebagai serangkaian lambang, dalam hal ini, dipergunakan sebagai sarana komunikasi. Selanjutnya serangkaian tersebut merupakan lambang yang membentuk suatu makna tertentu. Rangkaian yang dikenal sebagai kata inilah yang melambangkan suatu objek tertentu. Perlu diketahui, sebuah kata tidak akan memiliki makna apapun sampai kita memberikannya makna. Contoh, kata meja; yang merupakan lambang dari susunan kayu atau bahan lainnya yang dibentuk sedemikian rupa sehingga bisa untuk tempat menulis, tempat makan dll; adalah kita sebagai manusia yang memberikan makna perlambangannya. Dan permaknaan ini berbeda-beda, bagi orang Inggris perlambangan tersebut dengan kata ‘table’. Adanya lambang-lambang inilah yang membantu manusia dapat berpikir teratur dan runut, tidak hanya sekedar berpikir saja.

Dari kedua jurnal ‘Language Ambiguity: A Curse and a Blessing’ dan ‘A Linguistic Analysis of Ambiguity in English Language’ menunjukkan fakta adanya keambiguan dalam bahasa. Keambiguan dalam bahasa dipahami sebagai sesuatu yang memiliki makna persepsi lebih dari satu, berdasarkan persepsi orang yang memahaminya. Karena bahasa begitu penting, maka keambiguan dalam bahasa itu juga perlu dipikirkan secara mendalam.

II. Filsafat Keambiguan

Jurnal A Linguistic Analysis of Ambiguity in English Language memaparkan keambiguan dalam bahasa Inggris, dan efeknya dalam penafsirannya dan dalam struktur tata bahasanya. Akibat dari suatu keambiguan dalam bahasa Inggris diilustrasikan dengan contoh kalimat sebagai berikut.
1. The chickens are ready to eat.
Kalimat diatas dapat menimbulkan dua persepsi yang berbeda. Pertama, Ayam-ayam tersebut siap untuk dimakan seseorang. Kedua, Ayam-ayam tersebut siap untuk mengkonsumsi/makan sesuatu.
2. Squad helps dog bite victim.
Kalimat kedua ini juga dapat menimbulkan dua persepsi mengenai apa yang dilakukan oleh squad (regu penolong). Pertama, apakah squad tersebut menolong anjing untuk menyerang korban. Kedua, apakah squad tersebut menolong korban yang diserang oleh anjing.
Kedua contoh diatas menunjukkan keambiguan yang ada dalam bahasa, dalam hal ini bahasa Inggris.

Jurnal Language Ambiguity: A Curse and a Blessing memaparkan pandangan penulisnya tentang dua sisi ambigu dalam suatu bahasa. Ambigu dapat bernilai positif dan negatif. Dalam jurnal ini pengertian ambigu dijelaskan lebih detail daripada jurnal pertama. Dijelaskan pula hubungan ambigu dengan sastra, psikoanalisis, dan teknologi komputer.

Filsafat, sebagai studi tentang pemikiran tertentu secara luas dan bebas, berkaitan dengan semantik. Kaitan di antara keduanya terletak pada dunia fakta yang menjadi objeknya dan dunia simbolik yang terwakili dalam bahasa. Aktivitas berpikir itu sendiri tidak berlangsung tanpa adanya bahasa sebagai medianya. Ketepatan menyusun simbol kebahasaan secara logis merupakan dasar dalam memahami struktur realitas secara benar. Karena itu, simbol harus serasi dengan realitas sehingga keduanya berhubungan secara tepat dan benar.

Dengan demikian bahwa bahasa adalah sistem simbol yang memiliki makna, merupakan alat komunikasi manusia, penuangan emosi manusia serta merupakan sarana pengejawantahan pikiran manusia dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam mencari hakikat kebenaran dalam hidupnya.

Dalam kenyataannya bahasa memiliki sifat ambigu, makna lebih dari satu, karena makna yang terkandung dalam suatu ungkapan bahasa pada dasarnya hanya mewakili realitas yang diacunya. Penjelasan secara verbal tentang aneka warna bunga mawar, tidak akan setepat dan sejelas pengamatan secara langsung tentang aneka bunga mawar tersebut. Perbedaan persepsi akibat keambiguan disebabkan karena sebagai berikut,

Permasalahan bahasa itu sendiri sebagai suatu disiplin ilmu. Hal ini dijelaskan dalam artikel yang kedua yang berjudul ‘A Linguistic Analysis of Ambiguity in English Language’, walaupun artikel tersebut menggunakan bahasa Inggris sebagai media permasalah ambigunya, hal ini berlaku pada sistem bahasa manapun. Bahasa sebagai suatu disiplin ilmu dipegang oleh linguistik. Keambiguan karena permasalahan linguistik di jelaskan melalui sublinguistik yaitu, pragmatik, sintaksis, dan semantik.
Perbedaan latar belakang budaya juga memberi ruang kemunculan keambiguan. Kebudayaan seseorang tentulah mempengaruhi cara pandang pemikirannya. Sudut pandang seseorang dengan orang lain yang berbeda budaya bisa saja berbeda. Perbedaan persepsi inilah ruang bagi keambiguan.
Perbedaan pemahaman terhadap suatu konteks juga berpengaruh pada munculnya keambiguan. Kegagalan orang perorang dalam beradaptasi terhadap suatu lingkungan yang berbeda, dapat menghadirkan keambiguan.

Terlepas dari sebab munculnya, suatu keambiguan dalam bahasa masih bisa diperjelas seandainya terjadi komunikasi secara langsung, tapi bagaimana dengan sebuah teks yang dilepas oleh suatu penulis, yang kemudian menjadi milik pembacanya, dalam arti pembacanya bebas menafsirkan maknanya. Setiap persepsi yang berbeda selanjutnya menimbulkan keinginan untuk mengadu persepsi dengan tujuan mencari kebenaran.

Kebenaran secara filosofis berarti proposisi rasional yang sesuai dengan realitas. Akan tetapi nilai kebenaran masih dapat dibilang subjektif dalam arti setiap penganut suatu nilai memiliki argumen masing-masing yang diyakini benar. Persoalan ini adalah persoalan yang cukup pelik dan sulit sehingga tak jarang para ahli dan pemikir terjebak dalam permainannya tanpa pernah menyelesaikannya, karenanya diperlukan kesabaran dan ketenangan dalam memahaminya. Contohnya, seorang profesor akan mati-matian membela disiplin ilmunya terhadap disiplin ilmu lain dikarenakan mencari nilai kebenaran tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kebenaran itu cenderung relatif.

Bahasa muncul sebagai alat pembenaran pribadi, baik individu maupun kelompok, manakala bahasa dipakai untuk membenarkan anggapan, keyakinan, tindakan, atau perilaku pribadi tanpa memperhatikan atau bahkan mengesampingkan kebenaran yang ada di pihak lain. Dalam hal ini pembaca atau penerima ide dengan bebas menafsirkan bahasa atau fakta yang ada dan dengan kecerdasan intelektualnya untuk membenarkan dirinya. Keambiguan inilah yang menjadi kendaraan bagi fenomena nilai kebenaran.

Bukan hal baru melihat perdebatan para elit politik di Indonesia dikarenakan perbedaan persepsi dalam memahami suatu Undang-Undang. Contoh lain, perdebatan antara pengacara dalam menanggapi suatu pasal dalam KUHP. Hal ini masih positif selama mereka menggunakan argumen yang masuk akal dan menerima perbedaan pendapat yang ada. Akan tetapi, ketika suatu kelompok massa berdasarkan nilai kebenaran yang mereka anut memaksakan kehendak dengan kekerasan untuk mengikuti paham mereka, tentulah menjadi preseden buruk yang mengganggu keharmonisan hidup.

III. Kesimpulan

Keambiguan dalam bahasa, fakta adanya. Hal ini memberikan ruang pada perbedaan persepsi. Perbedaan persepsi ini mendorong pada pencarian nilai kebenaran yang cenderung subjektif. Perbedaan persepsi yang dinamis ini suatu pertanda baik dalam arti proses pemikiran telah dilalui sehingga semakin memanusiakan manusia tersebut, karena bagaimana mungkin kita menganut suatu paham tanpa memikirkan terlebih dahulu nilai-nilai kebenaran yang terkandung dalam paham tersebut. Akan tetapi ketika suatu keambiguan, dimanipulasi nilai kebenarannya hanya untuk kepentingan sesaat atau golongan tertentu ini menjadi sebuah kutukan. Dalam hal ini penulis setuju dengan jurnal kedua, ambigu adalah suatu anugerah dan juga suatu kutukan. Anugerah ketika menyediakan ruang untuk berpikir dan mengambil keputusan terhadap suatu persepsi tertentu, kutukan ketika perbedaan persepsi dari suatu keambiguan disikapi secara sempit yang berujung pada pelanggaran hak orang lain.

Bahasa yang pada awalnya sekadar alat komunikasi dalam perkembangannya kemudian diipergunakan untuk tujuan-tujuan tertentu, dari tujuan yang sederhana yang berhubungan dengan agama sampai pada tujuan yang lebih kompleks, seperti sebagai alat kekuasaaan dan hegemoni; sebagai alat pembenaran pribadi.


Sumber:

2. Suriasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Ilmu Populer Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2007.

Jurnal:
1. A Linguistic Analysis of Ambiguity in English Language by Andrea Logan
2. Language Ambiguity: A Curse and a Blessing by Cecilia Quiroga-Clare

No comments:

Post a Comment