Tuesday, July 5, 2011

Penerjemahan istilah budaya

Penerjemahan istilah budaya sering menjadi masalah apabila dalam bahasa sasaran (BSa) tidak ditemukan konsep budaya yang sama sehingga tidak ditemukannya padanan yang tepat. Dalam Venuti (2000:427), seandainya tidak ditemukan padanan konsep budaya yang tepat, istilah budaya tersebut tetap ditulis apa adanya. Namun perlu disertai catatan tambahan (footnote) dan daftar kata yang mengacu pada bagian teks yang memiliki konteks budaya tersebut. Hal tersebut dilakukan  untuk menerangkan konsep budaya yang dimaksud sehingga pembaca bisa memahami hasil terjemahannya. Sebaliknya, apabila konsep budaya yang diterjemahkan ditemukan pada BSa, tentunya penerjemahannya akan lebih mudah menemukan padanan dengan tepat tanpa adanya footnote ataupun daftar kata dari istilah budaya tersebut.
Berikut temuan istilah budaya dalam teks.
1. Teknik peminjaman alamiah
No
Istilah Budaya
Teknik Penerjemahan
BSu
BSa
1
culinary
kuliner
Peminjaman alamiah
2
satay
sate
Peminjaman alamiah
Teknik peminjaman alamiah dilakukan dengan mempertahankan BSu dalam teks terjemahan (BSa). Namun, peminjaman disertai penyesuaian lafal pada BSa. Hasil temuan diatas, kedua istilah tersebut dikenal dalam BSa, hanya saja dengan pelafalan yang disesuaiakan dengan BSa.

2. Teknik peminjaman murni
No
Istilah Budaya
Teknik Penerjemahan
Bsu
Bsa
1
batik
batik
Peminjaman murni
2
solo batik carnival
solo batik carnival
Peminjaman murni
3
warung
warung
Peminjaman murni
4
hik
hik
Peminjaman murni
5
jadah
jadah
Peminjaman murni
6
melting pot
melting pot
Peminjaman murni

Teknik peminjaman murni dilakukan dengan mempertahankan BSu sama persis pada teks BSa. Mengingat istilah yang diterjemahkan adalah istilah budaya, ada 2 kemungkinan yaitu (1) konsep budaya dalam BSa telah dikenal dengan baik atau ditemukan dalam teks BSu, (2) konsep budaya pada BSa tidak dikenal dalam BSu, sehingga diperlukan keterangan tambahan.
Untuk kasus no.1 – 5, konsep budaya telah dikenal atau bahkan berasal dari BSu sehingga cukup diterjemahkan tetap atau tidak mengalami perubahan. Sementara, untuk kasus no.6, istilah melting pot tidak dikenal dalam BSa, sehingga diterjemahkan apa adanya, dan di dalam teks telah dijelaskan secara detail pada kalimat selanjutnya ditandai dengan apositif ( -- ).
Warung HIK is something of a melting pot in fact – a place for people to chat, speak without censorship and kill time with help of a glass of hot ginger tea and snack such as fried peanuts, various satay or the grilled sticky rice cakes known as jadah.
Adanya penjelasan tentang melting pot di kalimat selanjutnya dan dirasa dapat dipahami oleh pembaca, maka cukup diterjemahkan dengan apa adanya atau tidak diterjemahkan.
3. Teknik reduksi
No
Istilah Budaya
Teknik Penerjemahan
BSu
BSa
1
the grilled sticky rice cakes known as jadah
jadah bakar
reduksi

Pada the grilled sticky rice cakes known as jadah yang diterjemahkan menjadi jadah bakar menggunakan teknik reduksi.  Teknik tersebut dilakukan dengan penghilangan secara parsial tanpa menimbulkan distorsi makna. Frasa the grilled sticky rice cakes dihilangkan karena maknanya dinilai sudah cukup terwakili dengan jadah bakar.
4. Teknik adaptasi
No
Istilah Budaya
Teknik Penerjemahan
BSu
BSa
1
stalls
warung
adaptasi
2
pushcarts
gerobak dorong
adaptasi
3
snack
camilan
adaptasi

Teknik ini dikenal dengan adaptasi budaya. Hal ini dilakukan menggantikan istilah budaya dalam BSu dengan istilah budaya yang lebih akrad dikenal dalam BSa.
-        Stall secara harfiah berarti table or small open shop from which things are sold in the street’ atau stan, kios, took kecil dipinggir jalan. Akan tetapi dalam BSa ada istilah yang kebih familiar yaitu warung. Hal tersebut dilakukan agar mudah dipahami oleh pembaca sasaran.
-        Pushcarts dalam BSu dikenal dengan kereta dorong. Istilah gerobak dorong lebih familiar bagi pembaca teks sasaran.
-        Snack mengacu pada makanan ringan, sedangkan dalam BSa ada istilah yang lebih dikenal yaitu camilan.
5. Teknik penerjemahan harfiah
No
Istilah Budaya
Teknik Penerjemahan
BSu
BSa
1
hot ginger tea
teh jahe panas
harfiah
Dalam contoh temuan ini, penerjemah melakukan teknik harfiah. Teknik ini dilakukan  dengan penyesuaian kaidah bahasa dalam BSa. Hot à panas, gingeràjahe, teaà teh; Dalam BSu modifier diletakkan terlebih dulu, sedangkan dalam BSa head didepan.
Teknik penerjemahan yang digunakan dalam teks ada lima yaitu: peminjaman murni, alamiah, reduksi, adaptasi dan penerjemahan harfiah. Secara keseluruhan, dalam kasus penerjemahan istilah budaya diatas, konsep budaya ditemukan dalam BSa, bahkan beberapa istilah budaya tersebut justru berasal dari BSa.

Filsafat bahasa

I. Pendahuluan

Bahasa menjadi unsur penting yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya—tumbuhan dan hewan. Keunikan manusia bukanlah terletak pada kemampuan berpikirnya melainkan terletak pada kemampuannya berbahasa. Walaupun hal ini banyak yang menentang, dengan pendapat tanpa bahasa manusia masih dapat tetap berpikir. Bisa berpikir tapi tidak runut dan tidak teratur, sekedar berpikir saja. Selain kemampuan berbahasa, budaya juga merupakan unsur penting pembeda manusia dengan mahluk lainnya. Apa hubungan antara budaya dan bahasa? Sebelum menjawab itu jawablah dulu pertanyaan berikut “Bagaimanakah cara menghilangkan sebuah budaya?” jawabannya adalah dengan melarang penggunaan bahasanya. Sebagai ilustrasi, seandainya ingin menghapus budaya wayang dalam budaya Jawa, pelarangan pentas wayang tidak akan menghilangkan wayang, akan tetap tersebar dari mulut kemulut, turun-temurun, bahkan dengan pelarangan secara frontal akan menimbulkan resistansi yang justru akan mempopulerkan wayang. Bagaimana seandainya yang dilarang adalah penggunaan bahasanya, dalam hal ini bahasa Jawa, dalam beberapa waktu kedepan niscaya wayang akan hilang, beserta kebudayaan-kebudayaan jawa lainnya. Hal tersebut menunjukkan pentingnya bahasa.


Bahasa dapat dicirikan sebagai serangkaian lambang, dalam hal ini, dipergunakan sebagai sarana komunikasi. Selanjutnya serangkaian tersebut merupakan lambang yang membentuk suatu makna tertentu. Rangkaian yang dikenal sebagai kata inilah yang melambangkan suatu objek tertentu. Perlu diketahui, sebuah kata tidak akan memiliki makna apapun sampai kita memberikannya makna. Contoh, kata meja; yang merupakan lambang dari susunan kayu atau bahan lainnya yang dibentuk sedemikian rupa sehingga bisa untuk tempat menulis, tempat makan dll; adalah kita sebagai manusia yang memberikan makna perlambangannya. Dan permaknaan ini berbeda-beda, bagi orang Inggris perlambangan tersebut dengan kata ‘table’. Adanya lambang-lambang inilah yang membantu manusia dapat berpikir teratur dan runut, tidak hanya sekedar berpikir saja.

Dari kedua jurnal ‘Language Ambiguity: A Curse and a Blessing’ dan ‘A Linguistic Analysis of Ambiguity in English Language’ menunjukkan fakta adanya keambiguan dalam bahasa. Keambiguan dalam bahasa dipahami sebagai sesuatu yang memiliki makna persepsi lebih dari satu, berdasarkan persepsi orang yang memahaminya. Karena bahasa begitu penting, maka keambiguan dalam bahasa itu juga perlu dipikirkan secara mendalam.

II. Filsafat Keambiguan

Jurnal A Linguistic Analysis of Ambiguity in English Language memaparkan keambiguan dalam bahasa Inggris, dan efeknya dalam penafsirannya dan dalam struktur tata bahasanya. Akibat dari suatu keambiguan dalam bahasa Inggris diilustrasikan dengan contoh kalimat sebagai berikut.
1. The chickens are ready to eat.
Kalimat diatas dapat menimbulkan dua persepsi yang berbeda. Pertama, Ayam-ayam tersebut siap untuk dimakan seseorang. Kedua, Ayam-ayam tersebut siap untuk mengkonsumsi/makan sesuatu.
2. Squad helps dog bite victim.
Kalimat kedua ini juga dapat menimbulkan dua persepsi mengenai apa yang dilakukan oleh squad (regu penolong). Pertama, apakah squad tersebut menolong anjing untuk menyerang korban. Kedua, apakah squad tersebut menolong korban yang diserang oleh anjing.
Kedua contoh diatas menunjukkan keambiguan yang ada dalam bahasa, dalam hal ini bahasa Inggris.

Jurnal Language Ambiguity: A Curse and a Blessing memaparkan pandangan penulisnya tentang dua sisi ambigu dalam suatu bahasa. Ambigu dapat bernilai positif dan negatif. Dalam jurnal ini pengertian ambigu dijelaskan lebih detail daripada jurnal pertama. Dijelaskan pula hubungan ambigu dengan sastra, psikoanalisis, dan teknologi komputer.

Filsafat, sebagai studi tentang pemikiran tertentu secara luas dan bebas, berkaitan dengan semantik. Kaitan di antara keduanya terletak pada dunia fakta yang menjadi objeknya dan dunia simbolik yang terwakili dalam bahasa. Aktivitas berpikir itu sendiri tidak berlangsung tanpa adanya bahasa sebagai medianya. Ketepatan menyusun simbol kebahasaan secara logis merupakan dasar dalam memahami struktur realitas secara benar. Karena itu, simbol harus serasi dengan realitas sehingga keduanya berhubungan secara tepat dan benar.

Dengan demikian bahwa bahasa adalah sistem simbol yang memiliki makna, merupakan alat komunikasi manusia, penuangan emosi manusia serta merupakan sarana pengejawantahan pikiran manusia dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam mencari hakikat kebenaran dalam hidupnya.

Dalam kenyataannya bahasa memiliki sifat ambigu, makna lebih dari satu, karena makna yang terkandung dalam suatu ungkapan bahasa pada dasarnya hanya mewakili realitas yang diacunya. Penjelasan secara verbal tentang aneka warna bunga mawar, tidak akan setepat dan sejelas pengamatan secara langsung tentang aneka bunga mawar tersebut. Perbedaan persepsi akibat keambiguan disebabkan karena sebagai berikut,

Permasalahan bahasa itu sendiri sebagai suatu disiplin ilmu. Hal ini dijelaskan dalam artikel yang kedua yang berjudul ‘A Linguistic Analysis of Ambiguity in English Language’, walaupun artikel tersebut menggunakan bahasa Inggris sebagai media permasalah ambigunya, hal ini berlaku pada sistem bahasa manapun. Bahasa sebagai suatu disiplin ilmu dipegang oleh linguistik. Keambiguan karena permasalahan linguistik di jelaskan melalui sublinguistik yaitu, pragmatik, sintaksis, dan semantik.
Perbedaan latar belakang budaya juga memberi ruang kemunculan keambiguan. Kebudayaan seseorang tentulah mempengaruhi cara pandang pemikirannya. Sudut pandang seseorang dengan orang lain yang berbeda budaya bisa saja berbeda. Perbedaan persepsi inilah ruang bagi keambiguan.
Perbedaan pemahaman terhadap suatu konteks juga berpengaruh pada munculnya keambiguan. Kegagalan orang perorang dalam beradaptasi terhadap suatu lingkungan yang berbeda, dapat menghadirkan keambiguan.

Terlepas dari sebab munculnya, suatu keambiguan dalam bahasa masih bisa diperjelas seandainya terjadi komunikasi secara langsung, tapi bagaimana dengan sebuah teks yang dilepas oleh suatu penulis, yang kemudian menjadi milik pembacanya, dalam arti pembacanya bebas menafsirkan maknanya. Setiap persepsi yang berbeda selanjutnya menimbulkan keinginan untuk mengadu persepsi dengan tujuan mencari kebenaran.

Kebenaran secara filosofis berarti proposisi rasional yang sesuai dengan realitas. Akan tetapi nilai kebenaran masih dapat dibilang subjektif dalam arti setiap penganut suatu nilai memiliki argumen masing-masing yang diyakini benar. Persoalan ini adalah persoalan yang cukup pelik dan sulit sehingga tak jarang para ahli dan pemikir terjebak dalam permainannya tanpa pernah menyelesaikannya, karenanya diperlukan kesabaran dan ketenangan dalam memahaminya. Contohnya, seorang profesor akan mati-matian membela disiplin ilmunya terhadap disiplin ilmu lain dikarenakan mencari nilai kebenaran tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kebenaran itu cenderung relatif.

Bahasa muncul sebagai alat pembenaran pribadi, baik individu maupun kelompok, manakala bahasa dipakai untuk membenarkan anggapan, keyakinan, tindakan, atau perilaku pribadi tanpa memperhatikan atau bahkan mengesampingkan kebenaran yang ada di pihak lain. Dalam hal ini pembaca atau penerima ide dengan bebas menafsirkan bahasa atau fakta yang ada dan dengan kecerdasan intelektualnya untuk membenarkan dirinya. Keambiguan inilah yang menjadi kendaraan bagi fenomena nilai kebenaran.

Bukan hal baru melihat perdebatan para elit politik di Indonesia dikarenakan perbedaan persepsi dalam memahami suatu Undang-Undang. Contoh lain, perdebatan antara pengacara dalam menanggapi suatu pasal dalam KUHP. Hal ini masih positif selama mereka menggunakan argumen yang masuk akal dan menerima perbedaan pendapat yang ada. Akan tetapi, ketika suatu kelompok massa berdasarkan nilai kebenaran yang mereka anut memaksakan kehendak dengan kekerasan untuk mengikuti paham mereka, tentulah menjadi preseden buruk yang mengganggu keharmonisan hidup.

III. Kesimpulan

Keambiguan dalam bahasa, fakta adanya. Hal ini memberikan ruang pada perbedaan persepsi. Perbedaan persepsi ini mendorong pada pencarian nilai kebenaran yang cenderung subjektif. Perbedaan persepsi yang dinamis ini suatu pertanda baik dalam arti proses pemikiran telah dilalui sehingga semakin memanusiakan manusia tersebut, karena bagaimana mungkin kita menganut suatu paham tanpa memikirkan terlebih dahulu nilai-nilai kebenaran yang terkandung dalam paham tersebut. Akan tetapi ketika suatu keambiguan, dimanipulasi nilai kebenarannya hanya untuk kepentingan sesaat atau golongan tertentu ini menjadi sebuah kutukan. Dalam hal ini penulis setuju dengan jurnal kedua, ambigu adalah suatu anugerah dan juga suatu kutukan. Anugerah ketika menyediakan ruang untuk berpikir dan mengambil keputusan terhadap suatu persepsi tertentu, kutukan ketika perbedaan persepsi dari suatu keambiguan disikapi secara sempit yang berujung pada pelanggaran hak orang lain.

Bahasa yang pada awalnya sekadar alat komunikasi dalam perkembangannya kemudian diipergunakan untuk tujuan-tujuan tertentu, dari tujuan yang sederhana yang berhubungan dengan agama sampai pada tujuan yang lebih kompleks, seperti sebagai alat kekuasaaan dan hegemoni; sebagai alat pembenaran pribadi.


Sumber:

2. Suriasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Ilmu Populer Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2007.

Jurnal:
1. A Linguistic Analysis of Ambiguity in English Language by Andrea Logan
2. Language Ambiguity: A Curse and a Blessing by Cecilia Quiroga-Clare

Monday, July 4, 2011

Sosiolinguistik - Analisis situasi sosial

1. Percakapan 1
BSu (Bahasa Sumber)
“Where the hell were you?” Johnny Fontane asked.
“Out fucking,” she said.
She had misjudged his drunkenness. He sprang over the cocktail table and grabbed her by the throat. But close up to that magical face, the lovely violet eyes, he lost his anger and became helpless again. She made the mistake of smiling mockingly, saw his fist draw back. She screamed, “Johnny, not in the face, I’m making a picture.”
But he was not hitting her hard enough. He couldn’t. And she was giggling at him. Spread-eagled on the floor, her brocaded gown hitched up above her thighs, she taunted him between giggles. “Come on, stick it in. Stick it in, Johnny, that’s what you really want.”
Johnny Fontane got up. He hated the woman on the floor but her beauty was a magic shield. Margot rolled away, and in a dancer’s spring was on her feet facing him. She went into a childish mocking dance and chanted, “Johnny never hurt me, Johnny never hurt me.” Then almost sadly with grave beauty she said, “You poor silly bastard, giving me cramps like a kid. Ah, Johnny, you always will be a dumb romantic guinea, you even make love like a kid. You still think screwing is really like those dopey songs you used to sing.” She shook her head and said, “Poor Johnny. Goodbye, Johnny.” She walked into the bedroom and he heard her turn the key in the lock. (The Godfather, 1969:4)
BSa (Bahasa Sasaran)
“Sialan, dari mana saja kau?” Tanya Johnny Fontane.
“Main seks,” jawabnya.
Ia keliru menilai kemabukan suaminya. Johnny melompati meja minuman dan mencengkeram leher istrinya. Tetapi sangat dekat dengan wajah yang begitu magis, mata ungu yang indah, Johnny kehilangan amarah dan menjadi tidak berdaya lagi. Margot melakukan kesalahan dengan tersenyum mengejek, melihat suaminya mengayunkan tinju. Ia menjerit, “Johnny, jangan di wajah, aku sedang membuat film!”
Tapi ia tidak cukup keras memukuli istrinya. Ia tidak mampu. Dan istrinya menertawakan dirinya. Telentang di lantai, gaun brokatnya tersingkap hingga ke atas paha, Margot menggoda sambil tertawa-tawa. “Ayo, masukkan. Masukkanlah, Johnny. Itu sebenarnya yang kau inginkan.”
Johnny Fontane berdiri. Ia membenci wanita di lantai itu, tapi kecantikan wanita tersebut merupakan perisai ajaib. Margot berguling menyingkir, dan dengan loncatan selincah penari, ia berdiri menghadapinya. Seperti anak kecil, Margot menari-nari mengejek dan bernyanyi, “Johnny tidak bisa menyakitiku, Johnny tidak bisa menyakitiku.” Kemudian, dengan ekspresi hampir sedih dan kecantikan yang sendu ia berkata, “Kau bangsat tolol sialan, membuatku pegal-pegal seperti anak kecil. Ah, Johnny, kau akan selalu menjadi kelinci tolol yang romantis, kau bahkan bercinta seperti anak-anak. Kau masih beranggapan seks sama seperti lagu-lagu cengeng yang kau nyanyikan.”
Margot menggeleng-geleng dan berkata, “Johnny yang malang. Selamat tinggal, Johnny.” Ia berjalan masuk ke kamar tidur dan mengunci pintu. (Sang Godfather, 2006:12-13)
2. Percakapan 2
BSu
Hagen smiled at the Don. “That’s a good investment for Nazorine. A son-in-law and a cheap lifetime helper in his bakery all for two thousand dollars.” He paused. “Who do I give this job to?”
Don Corleone frowned in thought. “Not to our paisan. Give it to the Jew in the next district. Have the home addresses changed. I think there might be many such cases now the war is over; we should have extra people in Washington that can handle the overflow and not raise the price.” Hagen made a note on his pad. “Not Congressman Luteco. Try Fischer.” (The Godfather, 1969:13)
BSa
Hagen tersenyum pada Don. “Investasi yang bagus sekali untuk Nazorine.  Menantu dan asisten seumur hidup yang murah di kedai rotinya dengan mengeluarkan uang dua ribu dolar.” Ia berhenti bicara. “Kepada siapa aku memberikan pekerjaan ini?”
Don Corleone mengerutkan wajah, berpikir. “Jangan kepada paisan kita. Berikan kepada Yahudi di distrik tetangga. Ubah alamat-alamat rumahnya. Kurasa banyak kasus seperti itu sekarang, sesudah perang berakhir; kita harus memiliki orang tambahan di Washington agar bisa menangani membanjirnya kasus dan tidak menaikkan harga.” Hagen menulis catatan di bukunya. “Jangan Congressman Luteco. Cobalah Fischer.” (Sang Godfather, 2006:29)
ANALISIS PERCAKAPAN
Percakapan di atas dikutip dari novel The Godfather karya Mario Puzzo (1969). Novel ini diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dengan judul sang Godfather (2006). Novel ini bercerita tentang kehidupan satu dari lima keluarga mafia terbesar di New York. Bercerita tentang perang antar mafia, tentang kehidupan bawah tanah yang menguasai hampir semua hajat hidup orang banyak. Godfather sendiri adalah seorang yang bernama Vito Corleone, seorang dari sisilia yang menyusuri dunia gelap di Amerika. Ia dikenal sebagai salah satu pemimpin Mafia – Sisilia yang disegani di New York Amerika, walau ia seorang pemimpin kerajaan bawah tanah raksaksa yang menguasai berbagai kegiatan bisnis ilegal dan hidup dalam dunia kejahatan yang kelam, dirinya tidak bersikap kejam seperti pemimpin mafia-mafia lainnya. Corleone dikenal sebagai seorang pria yang logis, adil dan murah hati.
Di samping menjalankan bisnisnya, ia kerap didatangi siapa saja untuk dimintai bantuan. Ia selalu menepati janjinya untuk menolong orang-orang tersebut. Tidak peduli semiskin atau selemah apapun orang yang meminta bantuan, Corleone akan melakukan apapun untuk menolong orang tersebut. Hanya satu hal yang perlu dibayar dari pertolongan itu. Yaitu orang itu menyatakan persahabatannya pada Corleone. Hal ini menyebabkan dirinya digelari “Don” yang terhormat, dan panggilan lainnya yang lebih penuh kasih, “Godfather”.
A. LANDASAN TEORI
·         Joshua Fishman (1964, 1965, 1968) dalam suatu konteks sosial ada domain yang mengacu pada dimana letak lokasinya, topik yang terjadi, dan partisipan yang terlibat.
·         Menurut Parasher(1980) ada 7 domain: (1) family, (2) friendship, (3) neighborhood, (4) transactions, (5) education, (6) government, (7) employment.
·         Holmes (1992: 12-15) menyatakan adanya dimensi sosial yang biasanya dinyatakan secara implisit dalam suatu percakapan. Dimensi-dimensi sosial tersebut,
-        Jarak Sosial (Social Distance)
Hubungan antar partisipan dalam suatu percakapan.
-        Status Sosial (the Status)
Status sosial dari penutur itu sendiri yang dilihat dari pemilihan kata dari bahasa yang digunakan.
-        Keformalan (Formality)
Tingkat keformalan dari suatu percakapan. Formal atau tidaknya suatu bahasa yang digunakan oleh para partisipan tergantung pada jenis interaksi suatu percakapan.
-        Referensial dan Afektif (Referential and Affective)
Referensial dan afektif berhubungan dengan topik interaksi. Referensial mengacu pada seberapa banyak informasi yang diberikan oleh penutur, sedangkan afektif menggambarkan perasaan penutur.
·         Situasi psikologis menurut Herman ada 3,
a)      Kebutuhan pribadi (personal needs)
-        Latar lebih banyak pribadi daripada umum
-        Situasi mendorong ketidakamanan, ketegangan yang tinggi atau frustrasi
-        Situasi lebih banyak menyentuh lapisan pusat kepribadian daripada lapis pinggiran
b)      Situasi latar belakang kelompok (background situation)
-        Aktivitas terjadi lebih banyak dalam latar umum (publik) dari pada latar pribadi (personal)
-        Perilaku dalam situasi itu dapat diinterpretasikan sebagai pemberi kunci pada identifikasi kelompok
-        Orang yang terlibat dalam aktivitas itu ingin mengindentifikasikan diri dengan kelompok tertentu atau ingin tidak dikaitkan dengan kelompok itu
c)      Situasi aktual yang langsung ada (immediate situation)
-        Orang (penutur) tidak memikirkan identifikasi kelompok
-        Perilaku penutur merupakan orientasi kerja/tugas
-        Pola perilaku yang sudah mapan menandai kerelasian antara penutur dengan lawan bicara

B. PERCAKAPAN 1
                Percakapan 1 adalah percakapan antara dua orang suami istri yang sedang bertengkar. Si suami Johnny Fontane dan si istri Margot Ashton. Keterkaitan adegan tersebut dengan tema cerita ialah untuk menggambarkan kondisi Johnny Fontane yang sedang bermasalah kemudian menemui sang Godfather untuk membantunya menyelesaikan masalah tersebut.
a)    Situasi sosial (Social situation)
Percakapan 1 terjadi di sebuah hotel mewah di Los Angeles. Keadaan pada saat itu digambarkan dalam kondisi saling marah, sehingga kata-kata yang keluar pun cenderung kasar dan tidak formal seperti penggunaan hell, fucking, bastrad. Percakapan itu dilatar belakangi keduanya sebagai suami istri yang sedang bertengkar. Adapun penyebab pertengkaran itu disebutkan bahawa Johnny Fontane yang berprofesi sebagai artis film Hollywood dan penyanyi terkenal, sedang mengalami masa sulit yaitu mulai meredup popularitasnya, film yang dibintanginya tidak sukses, dan suara emasnya telah hilang karena ada penyakit pada tenggorokannya.
                    i.          Analisis domain
Dalam analisis domain 3 hal yang menjadi bahan analisis, yaitu lokasi, partisipan dan topik.
-          Lokasi
Di sebuah suite hotel mewah di daerah Los Angeles. Lokasi ini menunjukkan kemapan ekonomi keduanya yang merupakan artis Hollywood, mereka dari kalangan terpandang, dengan status sosial yang baik pula.
-          Partisipan
Ada dua partisipan dalam percakapan 1, Johnny Fontane dan Margot Ashton. Keduanya pasangan suami istri yang sedang bertengkar dan diambang perceraian.
-          Topik
Topik pada percakapan diatas mengenai pertengkaran keduanya, yang diawali dengan Johnny Fontane yang menanyakan dari mana sang istri, kemudian dijawab sekenanya oleh sang istri, sehingga berlanjut ke pertengkaran hebat. Namun, pemicu pertengkaran justru dari pertanyaan awal Johnny Fontane yang cenderung kasar ditandai dengan penggunaan kata hell. Hal tersebut berlanjut kepada permasalah hubungan seksual diantara keduanya yang mengalami masalah. Bila diamati lebih lanjut, pertengkaran tersebut merupakan akumulasi dari kejadian-kejadian sebelumnya.  
Dilihat dari lokasi, partisipan dan topik dari percakapan 1, dapat disimpulkan domainnya adalah keluarga (family). Hubungan keduanya yang suami istri, lokasi di sebuah hotel, topiknya pertengkaran dalam keluarga.
                  ii.          Analisis dimensi sosial
Dimensi sosial biasanya dinyatakan secara implisit dalam suatu percakapan. Hal tersebut mencakup,
      a. Jarak Sosial
Jarak sosial disini dapat diindentifikasi dari hubungan antar partisipan. Dari percakapan 1 diketahui partisipannya ialah sepasang suami istri. Jarak sosial diantara mereka bisa dikatakan dekat atau akrab. Walaupun tidak mesra justru sedang bertengkar, tapi tetap menunjukkan adanya hubungan khusus diantara keduanya.
                      b. Status Sosial
Status sosial berkaitan dengan latar belakang kehidupan sosial keduanya. Keduanya berprofesi sebagai artis ternama, kehidupan ekonomi mereka bisa dibilang mapan. Meskipun demikian dari bahasa yang digunakan yaitu cenderung kasar, tidak menggambarkan status sosial mereka. Hal ini dikarenakan lebih pada situasi psikologis keduanya yang sedang marah.
                      c. Keformalan
Tingkat keformalan suatu percakapan bisa dilihat dari domainnya. Percakapan 1 berlokasi di sebuah hotel, penutur ialah sepasang suami istri yang sedang bertengkar. Hal tersebut menunjukkan tingkat keformalan yang rendah, atau tidak formal sama sekali. Berbeda dengan situasi belajar mengajar, ataupun pertemuan resmi di kantor, dsb.
                      d. Referensial dan afektif
Referensial mengacu pada seberapa banyak informasi yang diberikan oleh penutur, sedangkan afektif menggambarkan perasaan penutur. Informasi yang disampaikan oleh penutur cukup untuk mengidentifikasi bahwa itu adalah sebuah pertengkaran antara suami istri, seperti penggunaaan kata-kata hell, out fucking, poor silly bastard. Sedangkan perasaan penutur tergambar jelas sedang marah, hal ini tampak pada topik bahasan, dan pilihan kata yang digunakan.
b)   Gaya bahasa (Language style)
Dalam percakapan antara Johnny Fontane dan Margot Ashton, keduanya menggunakan gaya bahasa informal.
                i.          Gaya bahasa Johnny Fontane
Gaya bahasa informal yang digunakan Johnny Fontane bisa diidentifikasi langsung dilihat dari tuturannya “Where the hell were you?” Tata bahasa yang digunakan bukan tata bahasa baku dengan penambahan the hell, bentuk formal dari pertanyaan tersebut ialah tanpa the hell, Where were you? Kedekatan keduanya sebagai suami istri juga menambahkan alasan penggunaan bahasa informal, akan menjadi tidak wajar ketika suami istri dalam bercakap menggunakan bahasa formal dengan tata bahasa yang sempurna. Dalam hal ini, penggunaan jenis bahasa informal dan cenderung kasar yang digunakan Johnny Fontane tidak berkaitan dengan status sosialnya yang terpandang, tetapi lebih dipengaruhi kondisi psikologisnya yang sedang marah.
              ii.          Gaya bahasa Margot Ashton
Senada dengan Johnny fontane, gaya bahasa yang digunakan Margot Ashton ialah bahasa informal. Selain kedekatan hubungan keduanya sebagai suami istri, hal ini ditunjukkan pula dalam tata bahasa yang digunakan, yaitu bukan tata bahasa baku dan cenderung kasar pula. Pada awal percakapan Johnny menanyakan dia dari mana, akan tetapi tidak dijawab tempatnya, langsung dibalas dengan “Out fucking!” Hal ini menegaskan bahwa gaya bahasa yang digunakan ialah informal. Serupa dengan Johnny Fontane, status sosial yang disandangnya tidak tercermin dari bahasa yang digunakan, karena juga lebih pada situasi psikologisnya yang sedang marah.
c)    Psikologi Sosial
Situasi psikologis yang terjadi dalam percakapan tersebut bisa dikaitkan dengan domain, dimensi sosial dan gaya bahasa yang digunakan. Dalam kasus ini kondisi psikologis keduanya terlihat dari topik pembicaraannya, dimana keduanya sedang bertengkar.
Situasi psikologis kedua partisipan pada percakapan diatas berdasarkan Simon Herman ialah personal situation, yaitu:
1. Latar lebih banyak pribadi daripada umum
Lokasi percakapan ini ialah disebuah suite hotel, yaitu sebuah tempat pribadi dalam arti hanya dipakai oleh penyewa hotelnya saja. Tinggal di hotel yang sama menunjukkan kedekatan keduanya.
2. Situasi mendorong ketidakamanan, ketegangan tinggi atau frustrasi
Pertengkaran keduanya menggambarkan personal needs diantara keduanya. Ketegangan tinggi yang terjadi karena mempertahankan pendapatnya masing-masing. Johnny Fontane menyalahkan istrinya yang tidak pulang-pulang, sedangkan istrinya menyalahkan Johnny karena tidak mampu bercinta lagi. Topik ini menunjukkan personal needs keduanya.
3. Situasi lebih banyak menyentuh lapisan pusat kepribadian daripada lapisan pinggiran
Dilihat dari topik pembicaraan yang menyentuh masalah pribadi yaitu hubungan seksual. Kedekatan keduanya sebagai suami istri juga memperkuat situasi psikologis personal needs yang terjadi.
Sehingga bisa disimpulkan situasi psikologis yang terjadi ialah personal situation. Menjadi menarik ketika dalam percakapan 1, situasi psikologis lebih dominan dari status sosial penuturnya.
C. PERCAKAPAN 2
Percakapan 2 terjadi antara Tom Hagen dan Don Corleone. Tom Hagen ialah orang kepercayaan dari Don corleone. Percakapan terjadi setelah seseorang yang bernama Nazorine meminta bantuan sang Godfather, Don Corleone, untuk menyelamatkan menantunya yang hendak dipulangkan ke Italia, karena masuk ke Amerika secara ilegal. Percakapan 2 ialah ketika Tom Hagen meminta petunjuk  kepada siapa tugas diberikan.
a)    Situasi sosial (Social situation)
Percakapan 2 terjadi dirumah Don Corleone, tepatnya di ruang ‘kerja’ Don Corleone. Ruang ‘kerja’ yang dimaksud ialah ruang pribadi karena memang Don Corleone bukanlah pemimpin suatu instansi resmi, melainkan organisasi mafia yang tentu saja tidak memiliki kantor resmi. Percakapan berlangsung sopan karena memang Tom hagen sangat menghormati Don Corleone, dan sebaliknya walaupun sebagai pimpinan mafia, sang godfather terkenal karena kesopanan dan keramah-tamahannya.
                    i.          Analisis domain
Dalam analisis domain 3 hal yang perlu diperhatikan, yaitu lokasi, partisipan dan topik.
-          Lokasi
Percakapan berlangsung di kediaman Don Corleone.
-          Partisipan
Ada dua partisipan dalam percakapan tersebut, yaitu Tom Hagen dan Don Corleone. Tom Hagen, disamping memiliki kekerabatan sebagai anak angkat, ia sekaligus sebagai orang kepercayaan atau ‘tangan kanan’ Don Corleone.
-          Topik
Pemberian perintah dari Corleone kepada Tom Hagen untuk membantu menantu Nazorine.
Meskipun percakapan terjadi di sebuah rumah pribadi dan partisipannya memiliki kekerabatan sebgai anak dan bapak angkat, tetapi domain pada percakapan 2 adalah employment (pekerjaan). Hal ini dikarenakan topik pembicaraan dan posisi penutur ketika berdialog. Topik pembicaraan ialah mengenai pekerjaan, yaitu perintah kepada Tom Hagen untuk melakukan sesuatu. Lebih lanjut, ketika percakapan itu berlangsung posisi Tom Hagen bukanlah sebagai anak angkat yang telah dirawat sejak kecil, melainkan sebagai seorang anak buah yang menerima perintah dari seorang pimpinan. Degitu pula Don Corleone, bukan sebagai ayah angkat melainkan sebagai seorang bos yang memberi komando kepada anak buah. Oleh karena itu, disimpulkan bahwa domain percakapan itu ialah pekerjaan (employment).
                  ii.          Analisis dimensi
                      a. Jarak Sosial
Untuk mengidentifikasi jarak sosial, perlu memperhatikan hubungan antar partisipan. Partisipan dalam percakapn 2 ialah Tom hagen dan Don Corleone. Hubungan keduanya diceritakan sangat dekat. Diketahui Tom Hagen ialah anak angkat sang Don, ia telah dirawat sejak kecil. Lebih lanjut dalam organisasi mafia yang dipimpin Don Corleone, Tom Hagen memiliki posisi yang sangat dekat sebagai orang kepercayaan Don. Dalam organisasi ini rekrutmen bukanlah berdasar kualifikasi akademik, tapi lebih kepada kedekatan personal. Sehingga bisa disimpulkan jarak sosial antar keduanya sangat akrab (intimate).
                      b. Status Sosial
Sebagai pemimpin tertinggi sebuah organisasi mafia terbesar, Don corleone dikenal sebagai orang terhormat yang sangat santun dan ramah. Kedudukan sosialnya sangatlah disegani, banyak orang menemuinya untuk meminta pertolongan. Walaupun tidak dijelaskan mengenai tingkat pendidikannya, namun dari bahasa yang digunakan terlihat Don adalah orang yang penuh etika. Begitu pula dengan Tom Hagen, ia memiliki status sosial yang baik. Ditambah lagi dengan latar belakang pendidikannya sebagai pengacara handal.
                      c. Keformalan
Tingkat keformalan dalam percakapan 2 sangat tinggi, hal ini bila ditilik dari bahasa yang digunakan dan seriusnya topik pembicaraan. Walaupun secara personal keduanya akrab namun mengingat situasi ketika ialah mengenai pekerjaan, maka situasi formal yang dominan pada percakapan 2.
                      d. Referensial dan afektif
Referensial mengacu pada informasi yang bisa dilihat dari tindak tutur yang terjadi. Dari percakapan 2 bisa dilihat bahwa itu adalah percakapan antara pimpinan dengan anak buahnya. Keduanya membicarakan masalah pekerjaan, sang pimpinan memberikan instruksi kepada anak buah, dan si anak buah mendengarkan dengan khidmat. Terkait afektif yaitu perasaan penutur, bisa dilihat keduanya salaing menghargai satu sama lain. Walaupun sedang memberikan perintah, Don Corleone terlihat sangat menghargai anak buahnya dengan menggunakan bahasa yang santun.
b)   Gaya bahasa (Language style)
Dalam percakapan 2, Tom Hagen menggunakan gaya bahasa formal sedangkan Don Corleone  menggunakan gaya bahasa semi formal.
             i.            Gaya bahasa Tom Hagen
Pilihan gaya bahasa yang digunakan oleh Tom Hagen ialah bahasa formal, hal ini tercermin dari gramatika yang sempurna, seperti “Who do I give this job to?” Lawan bicaranya, Don Corleone adalah orang yang sangat ia hormati (respect) karena itu pula ia menggunakan bahasa yang penuh sopan santun. Walaupun secara personal sangat dekat, namun mengingat topik pembicaraan mengenai pekerjaan maka ia menggunakan bahasa yang baku. Ketika percakapan 2 terjadi posisi Tom Hagen ialah sebagai seorang anak buah yang sedang memohon instruksi. Kedudukan lawan bicara yang lebih tinggi membuat pilihan bahasa formal menjadi tepat sesuai konteks sosial yang ada. Terlebih lagi sejalan dengan domain percakapan ini yaitu pekerjaan.
            ii.            Gaya bahasa Don Corleone
Sementara gaya bahasa yang digunakan Don Corleone ialah semi formal. Hal ini tampak ketika Tom Hagen menanyakan kepada siapa tugas ini akan diberikan, namun tidak dijawab langsung kepada siapanya namun dijawab dengan “Not to our paisan”. Dalam kondisi formal pertanyaan ini haruslah langsung dijawab kepada siapanya. Adapun penggunaan gramatika yang lengkap dari Don Corleone sejalan dengan domain percakapan ini yaitu pekerjaan. Walaupun gramatika bahasa yang digunakan Don Corleone sudah betul, namun jawaban pendek yang tidak langsung menjawab menunjukkan bahwa gaya bahasa lisan yang digunakan ialah semi formal. Penggunaan ini terkait kedudukan Don Corleone sebagai pimpinan yang berbicara kepada anak buahnya.
c)      Psikologi Sosial
             i.            Situasi psikologis Tom Hagen
Pada percakapan 2, kedudukan Tom Hagen ialah sebagai seorang bawahan yang berbicara kepada atasan, sehingga bisa dilihat bahwa perilaku penutur merupakan orientasi tugas/kerja. Seorang bawahan ketika menemui pimpinannya tentu saja akan menggunakan bahasa yang formal ditandai dengan penggunaan bahasa baku, akan menjadi tidak wajar ketika seorang anak buah berkata seenaknya kepada pimpinananya. Relasi penutur dengan mitra tutur menunjukkan pula pola perilaku yang sudah mapan diantara keduanya. Jadi, dapat disimpulkan situasi psikologis Tom Hagen ialah immediate situation (situasi mendadak)
            ii.            Situasi psikologis Don Corleone
Situasi psikologis Don Corleone pun masih dalam immediate situation. Senada dengan Tom Hagen yaitu masih dalam situasi yang berorientasi tugas, dengan kedudukan sebagai pimpinan. Hubungan dengan Tom Hagen pun sudah mapan, dalam arti sudah kenal baik, mengingat Tom Hagen selain sebagai anak buah juga merupakan anak angkat yang telah dirawat sejak kecil.
Adapun situasi psikologis lain yang dialami Don Corleone ialah personal needs. Hal ini ditilik dari lokasi percakapan yang berada di tempat pribadinya bukan ditempat umum. Topik pembicaraannya juga bersifat pribadi atau rahasia, yaitu perintah illegal untuk membantu seseorang yang tidak mungkin diketahui oleh khalayak ramai.
C. ANALISIS TERJEMAHAN
Terkait dengan judul, The Godfather menjadi Sang Godfather, istilah Godfather diterjemahkan apa adanya, dengan cara peminjaman murni. Hal ini disebabkan karena padanan istilah Godfather tidak ditemukan dalam bahasa Indonesia, penambahan sang merupakan terjemahan dari artikel the. Godfather memiliki makna seorang pimpinan mafia yang disegani, ditakuti dan dihormati dan di Indonesia tidak dikenal budaya mafia.
Pada percakapan 1, ada beberapa istilah yang sensitif terkait situasi sosial untuk diterjemahkan seperti the hell, out fucking dan poor silly bastard. Dalam hal ini terjemahan sudah baik dengan menerjemahkannya menjadi, sialan, main seks, bangsat tolol sialan. Kondisi sosial dalam BSu sudah diterjemahkan dalam BSa, termasuk situasi marah telah tampak pada teks terjemahannya.
Pada percakapan 2, bahasa formal dan semi formal yang ada dalam Bsu telah diterjemahkan menjadi bahasa yang sesuai pada teks BSa, dalam hal ini penerjemah tidak terjebak dalam kedekatan personal partisipannya dengan tetap menerjemahkan ke dalam bahasa yang formal pula. “Who do I give this job to?”  diterjemahkan menjadi  “Kepada siapa aku memberikan pekerjaan ini?” Walaupun kurang wajar antara bapak dan anak menggunakan bahasa formal ketika berkomunikasi, tetapi memang itulah yang sesuaii dengan teks BSu.
D. KESIMPULAN
1.   Penggunaan bahasa oleh seseorang dipengaruhi oleh situasi sosialnya, termasuk didalamnya psikologis sosial penuturnya. Penggunaan bahasa tersebut dapat menunjukkan keakraban, penghormatan dan kedudukan sosial penuturnya.
2.  Pada percakapan 1, dalam penggunaan gaya bahasa, pengaruh situasi psikologis penutur lebih dominan dari pada kondisi sosial penuturnya. Sedangkan, pada percakapan 2, pengaruh kedudukan sosial (atasan dan bawahan) lebih dominan mempengaruhi pihan gaya bahasa yang digunakan.
3.  Terkait penerjemahan, seorang penerjemah harus sensitif dalam menghadapi teks yang berisi suatu percakapan. Situasi sosial yang ada dalam teks BSu harus diejawantahkan pada BSa.

Referensi:
1.        Holmes, Janet. 1992. An Introduction to Sociolinguistics. London and New York: Longman.
2.       Puzo, Mario. 2006. Sang Godfather. Jakarta: Gramedia.
3.       Puzo, Mario. 1969. The Godfather. United States: G. P. Putnam's Sons.
4.      Sumarsono. 2002. Sosiolinguistik. Yogyakarta: SABDA.